Anda sudah selesai membaca sebuah karya tentang studi agraria? Tuliskan kembali ringkasan bacaan Anda dan kirimkan ke : studiagraria@gmail.com. Kami akan memuatnya di situs ini. Dan, mari kita membicarakannya.
Tampilkan postingan dengan label Dari Pengelola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dari Pengelola. Tampilkan semua postingan
Selasa, 29 Juni 2010
Prof. Sediono M.P. Tjondronegoro, Cendekiawan Berdedikasi 2010 versi Kompas
Pengelola blog Studi Agraria dotkom mengucapkan SELAMAT kepada Prof. Sediono M.P. Tjondronegoro yang terpilih sebagai Cendekiawan Berdedikasi 2010 versi Kompas sebagaimana termuat di harian Kompas edisi Senin, 28 Juni 2010.
Ini adalah penghargaan yang diberikan Kompas sejak 2008. Pada tahun ini kriteria pemilihan diperluas pada mereka yang berupaya membangun budaya akademis agar masyarakat semakin menyadari pentingnya penelitian. Selain Prof. Sediono M.P Tjondronegoro, yang terpilih lainnya adalah: Adnan Buyung Nasution, Bambang Hidayat, Mely G Tan, dan Raden Panji Soejono
Untuk membaca berita ini lebih lanjut, silakan klik di sini dan di sini.
Kami memberikan apresiasi terhadap penghargaan ini dengan memuat sebuah ikhtisar yang ditulis oleh Ahmad Nashih Luthfi mengenai otobiografi Profesor Tjondronegoro di sini.*
Senin, 01 Maret 2010
Pedoman Menulis Ikhtisar Studi Agraria
Sudah selesai membaca? Jangan tunda untuk menuliskan kembali apa isi bacaan Anda tadi. Tambahi dengan pujian, kritik, atau saran yang ada di pikiran Anda. Inilah babak pertama yang akan mengawali segalanya: bagian terpenting dalam proses kreatif penulisan sebuah ikhtisar.
Jangan menunda suatu pekerjaan, kata orang bijak. Dalam banyak kasus, dan demikian pula halnya dengan yang kali ini, nasehat itu sungguh benar. Begitu selesai membaca suatu buku, bab dalam suatu buku, artikel dalam suatu jurnal akademik, atau suatu laporan penelitian, kertas kerja, jangan tunda untuk mulai menuliskan butir-butir iktisar, pujian dan kritik atas atas karya tulis yang baru selesai anda baca itu. Inilah babak kreatif yang istimewa. Saat emosi dan pikiran sepanjang membaca naskah tadi langsung tertuang selagi mereka masih hidup dalam diri Anda.
Apakah sudah selesai? Tentu saja belum. Diamkanlah saja apa yang telah Anda tulis. Seberapa lama? Tak ada waktu yang pasti. Bisa saja segera setelah Anda keluar ruangan, minum kopi barang seteguk atau dua teguk, menghirup udara segar, kemudian kembali lagi. Jika Anda tipe orang sibuk, bisa saja tulisan ringkas itu Anda diamkan beberapa hari. Asal, ya jangan sampai hilang saja. Ingat selalu bahwa Anda akan kembali lagi padanya.
Nah, setelah terbentang jarak waktu yang cukup antara saat Anda menuliskan butir-butir ikhtisar, pujian dan kritik itu dengan saat Anda putuskan untuk kunjungi lagi tulisan itu, ikutilah pedoman umum berikut ini:
Tahap Pertama: Lihat kembali isi tulisan
Untuk mempermudah, jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sambil meninjau kembali tulisan Anda:
1. Apakah Anda tahu atau memiliki informasi mengenai latar belakang penulis karya tersebut ? Jikalau tidak pun tak mengapa, meski demikian informasi mengenai penulis akan membantu menelusuri argumentasi yang dikemukakan. Semakin banyak informasi yang diperoleh, semakin mudah untuk memahami pemikiran penulis.
2. Apakah Anda telah mengemukakan kembali pokok-pokok argumen dari karya itu, dan cara bagaimana penulis sampai pada argumen-argumen pokok itu? Apa saja yang ditampilkan penulis demi menyokong argumen-argumen pokoknya?
3. Sudahkah Anda secara eksplisit mengemukakan kerangka apa yang dipergunakan untuk menilai naskah ini. Ingat, jangan menilai naskah ini di luar kodrat dan porsinya. Ibaratnya, jangan mengharapkan tikus bisa terbang, atau kupu-kupu bisa berenang. Ini diperlukan agar pembaca mengetahui bagaimana cara Anda melakukan penilaian. Penilaian dengan menuliskan pengharapan yang terlalu tinggi bisa jadi malah memperburuk penilaian pembaca terhadap Anda bukannya sebaliknya.
Nah, bagaimana? Setelah Anda utak-atik kembali tulisan dan sudah merasa puas dengan hasilnya, kini kita beranjak ke tahap berikutnya.
Tahap Kedua: Sesuaikan teknis penulisan
Harap diingat bahwa panjang ikhtisar yang dapat diterima berkisar antara 1000 hingga 1500 kata. Ukuran panjang naskah ini dipilih dengan pertimbangan memungkinkan pembaca menuntaskan membaca sebuah ikhtisar pada saat itu juga.
Setelah memiliki gambaran mengenai panjang pendeknya tulisan Anda kelak, kini permak kembali tulisan Anda agar memenuhi dengan ketentuan situs Agraria Dotkom.
sebagai berikut:
1. Judul. Lengkapi dengan kutipan bibliografik dari karya yang ditinjau (judul lengkap, pengarang, tempat penerbit, penerbit, tahun penerbitan, edisi-jika ada, dan jumlah halaman). Jika karya ilmiah yang diambil bagian dari satu buku, tuliskan judul bukunya. Jangan lupa pula untuk memberi keterangan jika karya ilmiah itu belum diterbitkan atau akan diterbitkan dalam waktu dekat.
2. Bagian pertama. Berisi ringkasan isi buku seperti: latarbelakang, permasalahan yang hendak dibahas serta yang terpenting adalah apa argumen utama yang dikemukakan.
3. Bagian kedua. Mengenai bagaimana penulis sampai pada argumen tersebut. Kemukakan juga bukti-bukti pendukung yang dikumpulkan penulis dan bagaimana cara menampilkannya.
4. Bagian ketiga. Berisi penilaian Anda terhadap penulis: apakah sudah berhasil mencapai tujuannya penulisan atau belum.
5. Bagian Kelima berisi mengenai kekuatan dan kelemahan dari karya ilmiah yang ditinjau.
Tahap Ketiga: Membersihkan kata dan kalimat
Apa ini? Ini tugas sepele namun penting. Bisa saja Anda orang yang sangat pintar mengemukakan argumentasi dan ide-ide baru, namun menuliskannya ternyata tak semudah memikirkannya. Artinya biarpun gagasannya bagus dan jernih, tapi tulisannya masih kotor. Ini dalam artian yang sebenarnya lho. Yang paling sering terjadi karena salah ketik atau salah pencet. Tulisan yang jorok bagaimanapun juga mengganggu kenikmatan pembaca.
Berikut adalah kesalahan yang sering terjadi:
1. Kurang satu atau dua huruf hingga bisa saja merubah arti kata.
2. Terjadi pengulangan kata (kasusnya biasanya karena menghapus kalimat kemudian ketika hendak menuliskannya lagi masih ada satu atau dua kata tercecer)
3. Tidak bisa membedakan antara “di” sebagai kata depan dan “di” sebagai awalan. Misalnya: di depan (“di” sebagai kata depan), dipukul (“di” sebagai awalan). Membedakannya mudah kok. Sebagai kata depan, “di” menunjukkan suatu tempat, sementara sebagai awalan, “di” menjadi kata kerja.
4. Tidak meletakkan titik dan koma dengan benar. Baca kembali kalimat demi kalimat yang Anda buat. Coba Anda taati sendiri pemakaian titik dan koma yang ada. Intinya, jika koma berarti Anda harus berhenti membaca sebentar untuk mengambil nafas atau memahami isinya. Jika sampai pada titik, barulah Anda bisa berhenti agak lama. Nah, jika sudah membaca sampai panjaaaaaaang sekali tapi tidak ada jeda di kalimat tersebut tentunya Anda sulit bernafas bukan? Begitu juga dengan pembaca yang membaca tulisan Anda. Oleh karenanya, letakkan titik dan koma pada tempatnya agar tulisan Anda enak dibaca dan mudah dipahami.
5. Perhatikan kalimat yang menggunakan kata “yang” di awalnya. Dalam kasus ini penulis merasa perlu memberikan penjelasan detil kepada pembaca dengan menggunakan kata “yang” sampai beberapa kali. Tapi, yang terjadi sebenarnya bukannya memberi penjelasan tapi menambah kerumitan karena pembaca harus berpikir dua tiga kali untuk memahami fungsi “yang.” Misalnya pada contoh berikut: Ani mengenakan baju yang berwarna biru dari neneknya yang sedang bahagia pada hari Minggu yang ceria beberapa hari yang lalu. Cukup membingungkan bukan? Solusinya, kurangi pemakaian “yang”, hindari penjelasan yang terlalu detil dan tidak penting. Namun, jika memang penjelasan detil tak bisa dielakkan lagi, ya penggal-penggal saja kalimat menjadi lebih sederhana dan lebih mudah dipahami.
Dan, sebagaimana sebuah nasehat bijak: “Mulailah dengan menuliskannya untuk diri sendiri, selanjutnya sebarkanlah ke sesama.” Selamat Menulis!
Jangan menunda suatu pekerjaan, kata orang bijak. Dalam banyak kasus, dan demikian pula halnya dengan yang kali ini, nasehat itu sungguh benar. Begitu selesai membaca suatu buku, bab dalam suatu buku, artikel dalam suatu jurnal akademik, atau suatu laporan penelitian, kertas kerja, jangan tunda untuk mulai menuliskan butir-butir iktisar, pujian dan kritik atas atas karya tulis yang baru selesai anda baca itu. Inilah babak kreatif yang istimewa. Saat emosi dan pikiran sepanjang membaca naskah tadi langsung tertuang selagi mereka masih hidup dalam diri Anda.
Apakah sudah selesai? Tentu saja belum. Diamkanlah saja apa yang telah Anda tulis. Seberapa lama? Tak ada waktu yang pasti. Bisa saja segera setelah Anda keluar ruangan, minum kopi barang seteguk atau dua teguk, menghirup udara segar, kemudian kembali lagi. Jika Anda tipe orang sibuk, bisa saja tulisan ringkas itu Anda diamkan beberapa hari. Asal, ya jangan sampai hilang saja. Ingat selalu bahwa Anda akan kembali lagi padanya.
Nah, setelah terbentang jarak waktu yang cukup antara saat Anda menuliskan butir-butir ikhtisar, pujian dan kritik itu dengan saat Anda putuskan untuk kunjungi lagi tulisan itu, ikutilah pedoman umum berikut ini:
Tahap Pertama: Lihat kembali isi tulisan
Untuk mempermudah, jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sambil meninjau kembali tulisan Anda:
1. Apakah Anda tahu atau memiliki informasi mengenai latar belakang penulis karya tersebut ? Jikalau tidak pun tak mengapa, meski demikian informasi mengenai penulis akan membantu menelusuri argumentasi yang dikemukakan. Semakin banyak informasi yang diperoleh, semakin mudah untuk memahami pemikiran penulis.
2. Apakah Anda telah mengemukakan kembali pokok-pokok argumen dari karya itu, dan cara bagaimana penulis sampai pada argumen-argumen pokok itu? Apa saja yang ditampilkan penulis demi menyokong argumen-argumen pokoknya?
3. Sudahkah Anda secara eksplisit mengemukakan kerangka apa yang dipergunakan untuk menilai naskah ini. Ingat, jangan menilai naskah ini di luar kodrat dan porsinya. Ibaratnya, jangan mengharapkan tikus bisa terbang, atau kupu-kupu bisa berenang. Ini diperlukan agar pembaca mengetahui bagaimana cara Anda melakukan penilaian. Penilaian dengan menuliskan pengharapan yang terlalu tinggi bisa jadi malah memperburuk penilaian pembaca terhadap Anda bukannya sebaliknya.
Nah, bagaimana? Setelah Anda utak-atik kembali tulisan dan sudah merasa puas dengan hasilnya, kini kita beranjak ke tahap berikutnya.
Tahap Kedua: Sesuaikan teknis penulisan
Harap diingat bahwa panjang ikhtisar yang dapat diterima berkisar antara 1000 hingga 1500 kata. Ukuran panjang naskah ini dipilih dengan pertimbangan memungkinkan pembaca menuntaskan membaca sebuah ikhtisar pada saat itu juga.
Setelah memiliki gambaran mengenai panjang pendeknya tulisan Anda kelak, kini permak kembali tulisan Anda agar memenuhi dengan ketentuan situs Agraria Dotkom.
sebagai berikut:
1. Judul. Lengkapi dengan kutipan bibliografik dari karya yang ditinjau (judul lengkap, pengarang, tempat penerbit, penerbit, tahun penerbitan, edisi-jika ada, dan jumlah halaman). Jika karya ilmiah yang diambil bagian dari satu buku, tuliskan judul bukunya. Jangan lupa pula untuk memberi keterangan jika karya ilmiah itu belum diterbitkan atau akan diterbitkan dalam waktu dekat.
2. Bagian pertama. Berisi ringkasan isi buku seperti: latarbelakang, permasalahan yang hendak dibahas serta yang terpenting adalah apa argumen utama yang dikemukakan.
3. Bagian kedua. Mengenai bagaimana penulis sampai pada argumen tersebut. Kemukakan juga bukti-bukti pendukung yang dikumpulkan penulis dan bagaimana cara menampilkannya.
4. Bagian ketiga. Berisi penilaian Anda terhadap penulis: apakah sudah berhasil mencapai tujuannya penulisan atau belum.
5. Bagian Kelima berisi mengenai kekuatan dan kelemahan dari karya ilmiah yang ditinjau.
Tahap Ketiga: Membersihkan kata dan kalimat
Apa ini? Ini tugas sepele namun penting. Bisa saja Anda orang yang sangat pintar mengemukakan argumentasi dan ide-ide baru, namun menuliskannya ternyata tak semudah memikirkannya. Artinya biarpun gagasannya bagus dan jernih, tapi tulisannya masih kotor. Ini dalam artian yang sebenarnya lho. Yang paling sering terjadi karena salah ketik atau salah pencet. Tulisan yang jorok bagaimanapun juga mengganggu kenikmatan pembaca.
Berikut adalah kesalahan yang sering terjadi:
1. Kurang satu atau dua huruf hingga bisa saja merubah arti kata.
2. Terjadi pengulangan kata (kasusnya biasanya karena menghapus kalimat kemudian ketika hendak menuliskannya lagi masih ada satu atau dua kata tercecer)
3. Tidak bisa membedakan antara “di” sebagai kata depan dan “di” sebagai awalan. Misalnya: di depan (“di” sebagai kata depan), dipukul (“di” sebagai awalan). Membedakannya mudah kok. Sebagai kata depan, “di” menunjukkan suatu tempat, sementara sebagai awalan, “di” menjadi kata kerja.
4. Tidak meletakkan titik dan koma dengan benar. Baca kembali kalimat demi kalimat yang Anda buat. Coba Anda taati sendiri pemakaian titik dan koma yang ada. Intinya, jika koma berarti Anda harus berhenti membaca sebentar untuk mengambil nafas atau memahami isinya. Jika sampai pada titik, barulah Anda bisa berhenti agak lama. Nah, jika sudah membaca sampai panjaaaaaaang sekali tapi tidak ada jeda di kalimat tersebut tentunya Anda sulit bernafas bukan? Begitu juga dengan pembaca yang membaca tulisan Anda. Oleh karenanya, letakkan titik dan koma pada tempatnya agar tulisan Anda enak dibaca dan mudah dipahami.
5. Perhatikan kalimat yang menggunakan kata “yang” di awalnya. Dalam kasus ini penulis merasa perlu memberikan penjelasan detil kepada pembaca dengan menggunakan kata “yang” sampai beberapa kali. Tapi, yang terjadi sebenarnya bukannya memberi penjelasan tapi menambah kerumitan karena pembaca harus berpikir dua tiga kali untuk memahami fungsi “yang.” Misalnya pada contoh berikut: Ani mengenakan baju yang berwarna biru dari neneknya yang sedang bahagia pada hari Minggu yang ceria beberapa hari yang lalu. Cukup membingungkan bukan? Solusinya, kurangi pemakaian “yang”, hindari penjelasan yang terlalu detil dan tidak penting. Namun, jika memang penjelasan detil tak bisa dielakkan lagi, ya penggal-penggal saja kalimat menjadi lebih sederhana dan lebih mudah dipahami.
Dan, sebagaimana sebuah nasehat bijak: “Mulailah dengan menuliskannya untuk diri sendiri, selanjutnya sebarkanlah ke sesama.” Selamat Menulis!
Label:
Dari Pengelola,
Ikhtisar Studi Agraria
Mengenai Ikhtisar Studi Agraria
Apa itu Ikhtisar Studi Agraria?
Sebuah ikhtisar pada hakekatnya (seturut KBBI) adalah suatu ringkasan atau sebuah pemandangan ringkas (yang penting-penting saja). Tanpa mengurangi bobot dari keseluruhan karya yang disajikan, keberadaan sebuah ikhtisar penting untuk melakukan pemahaman terhadap argumentasi yang dikemukakan dalam sebuah karya.
Ikthisar Studi Agraria (atau yang selanjutnya disebut ISA saja) menurut definisi kami kemudian adalah suatu pemandangan ringkas (atau yang kemudian akan disebut sebagai suatu tinjauan) terhadap karya-karya ilmiah tentang studi agraria baik yang berupa buku, bab dalam suatu buku, hasil penelitian, artikel dalam jurnal akademik, laporan studi, kertas kerja – yang sudah ataupun belum diterbitkan.
Bagaimana kedudukan ikhtisar dalam dunia akademik?
Adalah suatu kelaziman dalam dunia akademik bahwa mahasiswa dan dosen – bahkan bagi yang sudah mencapai tingkat profesor pun – membuat atau menuliskan sebuah ikhtisar dari suatu karya atau buku, yang biasa dikenal sebagai tinjauan buku (book review). Tujuan utamanya adalah agar para intelektual di dunia akademis itu selalu mengikuti perkembangan terbaru yang muncul seturut studi yang tengah ditekuninya. Membuat tinjauan buku bukan sekadar membuat ringkasan isi buku, melainkan juga melakukan analisis, pendapat, dan kritik (jika ada) terhadap argumentasi yang dikemukakan.
Dalam situs ini, sebagaimana sudah tersebut dalam definisi sebelumnya, ikhtisar yang dimaksud bukan saja suatu tinjauan terhadap sebuah buku melainkan juga karya ilmiah mengenai studi agraria dalam berbagai bentuk lainnya.
Penyebarluasan ikhtisar adalah tahap berikutnya yang sebaiknya dilakukan oleh penulis. Tujuannya pertama adalah menyebarluaskan kepada publik mengenai keberadaan karya tersebut (sifatnya adalah memberitakan/news). Kedua, mempermudah para peminat studi lainnya dalam mengikuti perkembangan pengetahuan. Ketiga, untuk mengasah kemampuan analisis dengan mengemukakan pandangan atau kritik terhadap hasil karya tersebut. Keempat, jika umpan dari penulis ikhtisar kemudian mendapatkan tanggapan dari publik maka akan tercipta suatu forum diskusi yang secara tidak langsung menjadi media untuk mengasah kemampuan masing-masing pesertanya.
Dalam dunia akademik, kemampuan pemahaman, analisis, kritis dan selalu mengikuti perkembangan yang terjadi adalah suatu keharusan. Nah, dikarenakan apa yang akan kita bicarakan dalam situs ini adalah studi agraria, dari penjelasan tersebut bisa dikemukakan bahwa keberadaan ikhtisar - yang dalam hal ini yang dimaksud adalah ISA - dalam studi agraria secara keseluruhan adalah penting adanya.
Siapa saja yang bisa menulis ISA di situs Agraria Dotkom?
Tak dipungkiri bahwa untuk menuliskan suatu tinjauan terhadap suatu karya ilmiah memerlukan kemampuan pemahaman dan analisis tertentu. Namun, kami berpendapat bahwa kegiatan ini bukanlah melulu monopoli mahasiswa dan dosen. Siapa saja, asalkan berminat untuk menekuni suatu studi tertentu sangat dianjurkan untuk selalu mengikuti perkembangan yang terjadi terkait dengan studi tersebut. Demikian pula dengan penulisan ISA. Para penggiat lapangan atau pecinta studi agraria dari kalangan non-akademis bisa saja melakukannya. Kami yakin, keduanya pasti memiliki pendapat tersendiri terhadap suatu karya berdasarkan pengalaman empirik maupun teoritik yang diperolehnya secara individual.
Dan karena itupula, kami memprakarsai penyebarluasan ISA melalui situs Agraria Dotkom. Kegiatan ini bukan hanya untuk membantu para peminat studi agraria mengikuti karya-karya terbaru dan penting untuk dipahami dalam studi agraria, namun bisa juga karya lama lainnya yang juga tak kalah pentingnya.
Lebih dari itupula, kami ingin mengajak para pecinta studi agraria untuk terus membiasakan diri dalam mengkaji karya-karya studi yang lahir dari waktu-ke-waktu. Kebiasaan ini adalah dasar yang kokoh bagi pemunculan pemikiran kritis dalam dunia akademik.
Kami yakin jika kebiasaan ini diimbangi dengan ketekunan dan kemauan untuk menempa diri secara terus-menerus, akan lahir generasi baru studi agraria di Indonesia yang berakar dalam dan sanggup menghadapi kompleksitas perubahan agraria di abad dua puluh satu ini.
Undangan
Mengawali pengaktifan situs Agraria Dotkom ini, kami mengundang teman-teman yang berminat pada pengembangan studi agraria untuk membuat ISA. Kami sangat menganjurkan agar penulis ikhtisar menunjukkan arti penting dari karya yang dikaji itu. Mengenai pedoman pembuatan ISA untuk situs Agraria Dotkom ini dapat dibaca pada tulisan berikutnya.
Jika ISA sudah selesai ditulis, silakan Anda mengirimkannya ke email: studiagraria@gmail.com. Selain memuatnya dalam situs Agraria Dotkom, kami juga akan menyebarluaskan naskah itu melalui E-group Studi Agraria.
Untuk saat ini, tidak ada honorarium untuk naskah yang dikirimkan. Naskah yang dikirimkan akan terlebih dahulu dibaca oleh moderator dan diedit bila dianggap perlu (dengan catatan, editing hanya bersifat redaksional saja).
Sebuah ikhtisar pada hakekatnya (seturut KBBI) adalah suatu ringkasan atau sebuah pemandangan ringkas (yang penting-penting saja). Tanpa mengurangi bobot dari keseluruhan karya yang disajikan, keberadaan sebuah ikhtisar penting untuk melakukan pemahaman terhadap argumentasi yang dikemukakan dalam sebuah karya.
Ikthisar Studi Agraria (atau yang selanjutnya disebut ISA saja) menurut definisi kami kemudian adalah suatu pemandangan ringkas (atau yang kemudian akan disebut sebagai suatu tinjauan) terhadap karya-karya ilmiah tentang studi agraria baik yang berupa buku, bab dalam suatu buku, hasil penelitian, artikel dalam jurnal akademik, laporan studi, kertas kerja – yang sudah ataupun belum diterbitkan.
Bagaimana kedudukan ikhtisar dalam dunia akademik?
Adalah suatu kelaziman dalam dunia akademik bahwa mahasiswa dan dosen – bahkan bagi yang sudah mencapai tingkat profesor pun – membuat atau menuliskan sebuah ikhtisar dari suatu karya atau buku, yang biasa dikenal sebagai tinjauan buku (book review). Tujuan utamanya adalah agar para intelektual di dunia akademis itu selalu mengikuti perkembangan terbaru yang muncul seturut studi yang tengah ditekuninya. Membuat tinjauan buku bukan sekadar membuat ringkasan isi buku, melainkan juga melakukan analisis, pendapat, dan kritik (jika ada) terhadap argumentasi yang dikemukakan.
Dalam situs ini, sebagaimana sudah tersebut dalam definisi sebelumnya, ikhtisar yang dimaksud bukan saja suatu tinjauan terhadap sebuah buku melainkan juga karya ilmiah mengenai studi agraria dalam berbagai bentuk lainnya.
Penyebarluasan ikhtisar adalah tahap berikutnya yang sebaiknya dilakukan oleh penulis. Tujuannya pertama adalah menyebarluaskan kepada publik mengenai keberadaan karya tersebut (sifatnya adalah memberitakan/news). Kedua, mempermudah para peminat studi lainnya dalam mengikuti perkembangan pengetahuan. Ketiga, untuk mengasah kemampuan analisis dengan mengemukakan pandangan atau kritik terhadap hasil karya tersebut. Keempat, jika umpan dari penulis ikhtisar kemudian mendapatkan tanggapan dari publik maka akan tercipta suatu forum diskusi yang secara tidak langsung menjadi media untuk mengasah kemampuan masing-masing pesertanya.
Dalam dunia akademik, kemampuan pemahaman, analisis, kritis dan selalu mengikuti perkembangan yang terjadi adalah suatu keharusan. Nah, dikarenakan apa yang akan kita bicarakan dalam situs ini adalah studi agraria, dari penjelasan tersebut bisa dikemukakan bahwa keberadaan ikhtisar - yang dalam hal ini yang dimaksud adalah ISA - dalam studi agraria secara keseluruhan adalah penting adanya.
Siapa saja yang bisa menulis ISA di situs Agraria Dotkom?
Tak dipungkiri bahwa untuk menuliskan suatu tinjauan terhadap suatu karya ilmiah memerlukan kemampuan pemahaman dan analisis tertentu. Namun, kami berpendapat bahwa kegiatan ini bukanlah melulu monopoli mahasiswa dan dosen. Siapa saja, asalkan berminat untuk menekuni suatu studi tertentu sangat dianjurkan untuk selalu mengikuti perkembangan yang terjadi terkait dengan studi tersebut. Demikian pula dengan penulisan ISA. Para penggiat lapangan atau pecinta studi agraria dari kalangan non-akademis bisa saja melakukannya. Kami yakin, keduanya pasti memiliki pendapat tersendiri terhadap suatu karya berdasarkan pengalaman empirik maupun teoritik yang diperolehnya secara individual.
Dan karena itupula, kami memprakarsai penyebarluasan ISA melalui situs Agraria Dotkom. Kegiatan ini bukan hanya untuk membantu para peminat studi agraria mengikuti karya-karya terbaru dan penting untuk dipahami dalam studi agraria, namun bisa juga karya lama lainnya yang juga tak kalah pentingnya.
Lebih dari itupula, kami ingin mengajak para pecinta studi agraria untuk terus membiasakan diri dalam mengkaji karya-karya studi yang lahir dari waktu-ke-waktu. Kebiasaan ini adalah dasar yang kokoh bagi pemunculan pemikiran kritis dalam dunia akademik.
Kami yakin jika kebiasaan ini diimbangi dengan ketekunan dan kemauan untuk menempa diri secara terus-menerus, akan lahir generasi baru studi agraria di Indonesia yang berakar dalam dan sanggup menghadapi kompleksitas perubahan agraria di abad dua puluh satu ini.
Undangan
Mengawali pengaktifan situs Agraria Dotkom ini, kami mengundang teman-teman yang berminat pada pengembangan studi agraria untuk membuat ISA. Kami sangat menganjurkan agar penulis ikhtisar menunjukkan arti penting dari karya yang dikaji itu. Mengenai pedoman pembuatan ISA untuk situs Agraria Dotkom ini dapat dibaca pada tulisan berikutnya.
Jika ISA sudah selesai ditulis, silakan Anda mengirimkannya ke email: studiagraria@gmail.com. Selain memuatnya dalam situs Agraria Dotkom, kami juga akan menyebarluaskan naskah itu melalui E-group Studi Agraria.
Untuk saat ini, tidak ada honorarium untuk naskah yang dikirimkan. Naskah yang dikirimkan akan terlebih dahulu dibaca oleh moderator dan diedit bila dianggap perlu (dengan catatan, editing hanya bersifat redaksional saja).
Label:
Dari Pengelola,
Ikhtisar Studi Agraria
Selamat Datang!
Mengikuti perkembangan sebuah studi tertentu melalui karya-karya ilmiah bisa dilakukan dengan membaca jurnal-jurnal akademik. Tiap jurnal akademik memiliki spesifikasi bidang studi tertentu, dan dengan demikian menjadi bagian tak terpisah dari jaringan komunitas bidang studi tertentu pula.
Misalnya saja, mereka yang secara umum tertarik dalam studi pembangunan, akan terus mengikuti Journal of Development and Change, Progress in Development Studies, World Development, Development in Practice, dan sebagainya. Sementara mereka yang secara khusus menjadi warga dalam bidang multidisiplin geografi manusia akan terus membaca terbitan-terbitan dari Progress in Human Geography, Antipode – A Radical Journal of Geography, Singapore Journal of Tropical Geography, Geography Compass, dan seterusnya. Untuk bidang studi yang lebih khusus, seseorang yang menjadi warga dari komunitas studi agraria tidak akan melewatkan diri untuk terus mengikuti terbitan Journal of Peasant Studies dan Journal of Agraria Change – untuk sekedar menyebut dua tonggak jurnal studi agraria yang tersohor.
Jika mencermati, masing-masing jurnal yang tadi telah disebut memiliki rubrik tinjauan buku (book review). Apa fungsinya? Membaca tinjauan buku sejatinya adalah upaya memelihara kewargaan diri dalam disiplin atau bidang studi tertentu, tidak peduli apakah seseorang bekerja di dalam atau di luar dunia akademik. Dengan membaca tinjauan buku, pembaca mengetahui terlebih dahulu isi suatu naskah buku dan evaluasi atas sumbangan yang dibuat oleh buku itu. Bila tertarik oleh suatu karya tinjauan buku tertentu, maka ia akan tergerak untuk mencari dan membaca naskah buku tersebut. Nah, bila ini yang terjadi, tujuan dari tinjauan buku itu telah tercapai.
Di sisi lain, lazimnya, para penulis buku mengandalkan tinjauan buku yang dipublikasi oleh jurnal-jurnal akademik untuk mengetahui seberapa baik daya terima, apresiasi dan kritik terhadap buku yang baru dipublikasi itu. Penerbit-penerbit umumnya memberikan layanan khusus, seperti mengirimkan buku tertentu secara gratis, pada orang-orang yang berminat membuat tinjauan buku atas buku itu.
Koran atau majalah mingguan/bulanan juga memiliki rubrik khusus yang di Indonesia biasa disebut Resensi Buku atau Tinjauan Buku. Rubrik ini tidak terikat dalam suatu bidang studi tertentu, melainkan untuk buku-buku yang menurut penilaian redaksi menarik minat pembaca.
Di Amerika, koran terkenal yang mengkhususkan pada tinjauan buku adalah The New York Review of Books. Sayang, di Indonesia sendiri hingga saat ini belum ada lagi media yang memfokuskan pada tinjauan buku. Sekitiar tahun 1980-an media seperti ini pernah ada. Namanya Optimis – buletin Bulanan Himpunan Masyarakat Pencinta Buku (Himapbu). Optimis diterbitkan oleh Lembaga Penunjang Pembangunan Nasional (Leppenas) dan ditujukan sebagai media informasi bagi anggota Himapbu mengenai perbukuan, dalam rangka mengembangkan minat baca masyarakat.
Kelangkaan media yang memfokuskan pada tinjauan buku ini memicu kami untuk menerbitkan situs Agraria Dotkom dengan spesifikasi pada karya ilmiah tentang studi agraria. Meski demikian, untuk membuka peluang mengikuti perkembangan studi agraria lebih lebar lagi, dalam situs Agraria Dotkom ini suatu tinjauan tak hanya dibuat untuk mengkaji isi buku melainkan juga karya ilmiah dalam beragam bentuk lainnya.
Sementara itu, tulisan-tulisan yang sifatnya informatif dan memberitakan (news) akan ditampilkan untuk tujuan mendukung, menambah pengetahuan dan mengikuti perkembangan dalam studi agraria. Ini seperti misalnya definisi istilah dalam studi agraria, perkembangan metoda penyebarluasan (pengajaran) studi agraria, biografi ringkas tokoh agraria ataupun topik-topik terkini lain yang tengah ramai dibicarakan.
Kami akan memulai dengan memperkenalkan mengenai apa itu Ikhtisar Studi Agraria kepada Anda. Selamat menikmati dan silakan berpartisipasi.
Misalnya saja, mereka yang secara umum tertarik dalam studi pembangunan, akan terus mengikuti Journal of Development and Change, Progress in Development Studies, World Development, Development in Practice, dan sebagainya. Sementara mereka yang secara khusus menjadi warga dalam bidang multidisiplin geografi manusia akan terus membaca terbitan-terbitan dari Progress in Human Geography, Antipode – A Radical Journal of Geography, Singapore Journal of Tropical Geography, Geography Compass, dan seterusnya. Untuk bidang studi yang lebih khusus, seseorang yang menjadi warga dari komunitas studi agraria tidak akan melewatkan diri untuk terus mengikuti terbitan Journal of Peasant Studies dan Journal of Agraria Change – untuk sekedar menyebut dua tonggak jurnal studi agraria yang tersohor.
Jika mencermati, masing-masing jurnal yang tadi telah disebut memiliki rubrik tinjauan buku (book review). Apa fungsinya? Membaca tinjauan buku sejatinya adalah upaya memelihara kewargaan diri dalam disiplin atau bidang studi tertentu, tidak peduli apakah seseorang bekerja di dalam atau di luar dunia akademik. Dengan membaca tinjauan buku, pembaca mengetahui terlebih dahulu isi suatu naskah buku dan evaluasi atas sumbangan yang dibuat oleh buku itu. Bila tertarik oleh suatu karya tinjauan buku tertentu, maka ia akan tergerak untuk mencari dan membaca naskah buku tersebut. Nah, bila ini yang terjadi, tujuan dari tinjauan buku itu telah tercapai.
Di sisi lain, lazimnya, para penulis buku mengandalkan tinjauan buku yang dipublikasi oleh jurnal-jurnal akademik untuk mengetahui seberapa baik daya terima, apresiasi dan kritik terhadap buku yang baru dipublikasi itu. Penerbit-penerbit umumnya memberikan layanan khusus, seperti mengirimkan buku tertentu secara gratis, pada orang-orang yang berminat membuat tinjauan buku atas buku itu.
Koran atau majalah mingguan/bulanan juga memiliki rubrik khusus yang di Indonesia biasa disebut Resensi Buku atau Tinjauan Buku. Rubrik ini tidak terikat dalam suatu bidang studi tertentu, melainkan untuk buku-buku yang menurut penilaian redaksi menarik minat pembaca.
Di Amerika, koran terkenal yang mengkhususkan pada tinjauan buku adalah The New York Review of Books. Sayang, di Indonesia sendiri hingga saat ini belum ada lagi media yang memfokuskan pada tinjauan buku. Sekitiar tahun 1980-an media seperti ini pernah ada. Namanya Optimis – buletin Bulanan Himpunan Masyarakat Pencinta Buku (Himapbu). Optimis diterbitkan oleh Lembaga Penunjang Pembangunan Nasional (Leppenas) dan ditujukan sebagai media informasi bagi anggota Himapbu mengenai perbukuan, dalam rangka mengembangkan minat baca masyarakat.
Kelangkaan media yang memfokuskan pada tinjauan buku ini memicu kami untuk menerbitkan situs Agraria Dotkom dengan spesifikasi pada karya ilmiah tentang studi agraria. Meski demikian, untuk membuka peluang mengikuti perkembangan studi agraria lebih lebar lagi, dalam situs Agraria Dotkom ini suatu tinjauan tak hanya dibuat untuk mengkaji isi buku melainkan juga karya ilmiah dalam beragam bentuk lainnya.
Sementara itu, tulisan-tulisan yang sifatnya informatif dan memberitakan (news) akan ditampilkan untuk tujuan mendukung, menambah pengetahuan dan mengikuti perkembangan dalam studi agraria. Ini seperti misalnya definisi istilah dalam studi agraria, perkembangan metoda penyebarluasan (pengajaran) studi agraria, biografi ringkas tokoh agraria ataupun topik-topik terkini lain yang tengah ramai dibicarakan.
Kami akan memulai dengan memperkenalkan mengenai apa itu Ikhtisar Studi Agraria kepada Anda. Selamat menikmati dan silakan berpartisipasi.
Langganan:
Postingan (Atom)
